Pengamen dan Penumpang Bis




Rabu, 11 Januari 2012
Udara hangat menyapu setiap bagian kulit, mengucurkan butir-butir keringat yang membasahi pakaianku di sebuah tempat duduk dalam bis.

Serasa tak sanggup bernafas. Setiap udara yang terhirup masuk ke dalam hidung mengakibatkan rasa mual menyerang perut hingga tenggorokan tak kuasa ingin mengeluarkan isi perut.

Aku seorang perokok, tak sangguplah berbagi asap pada penumpang lain. Dasar sial, di bangku sebelah tempat aku duduk, seorang laki-laki setengah baya menyalakan sebatang rokoknya dan menghisapnya dalam-dalam hingga asap putih mengepul tanpa gerak di setiap ruangan. Semakin aku tak sanggup membiarkan hidung ini menghisap udara yang penuh asap dan bau keringat.

Mencoba mataku melirik ke kiri, mendapati seorang kawan yang menemaniku dalam setiap perjalanan tengah asyik dengan telepon genggamnya memberi kabar calon ayah dari anak-anaknya. Tak ingin menganggunya, hanya sesekali meledeknya dengan kata-kata dan sedikit senyuman untuk memecah penat.

Tawa itu pun sempat memecah keheningan dalam kepenatan aroma pengap di dalam bis. Tak terasa, kota tujuanku sudah semakin mendekat. Banyak pesan pendek masuk di telepon genggamku, tapi aku membiarkannya karena tengah asyik menikmati para pengamen yang mendendangkan lagu-lagu terbaiknya.

Naik dan turun di setiap perhentian bis, satu per satu pengamen masuk. Ada yang hanya menggunakan Gitar, ada yang menggunakan Djembe, ada juga yang menggunakan Kencrung. Melafalkan lirik lagu karya anak negri ini yang terinspirasi dari kisah kehidupan.

Dari sekian pengamen, ada yang cukup serius menyita perhatianku. Seorang pengamen perempuan dengan wajah manis dan khas kecantikan perempuan Indonesia, membawa sebuah kotak dan mikrofon.

Dengan berdesakan menuju ujung depan bis, mematikan televisi yang tentunya akan mengganggunya melakukan pertunjukan. Setelah itu, mengotak atik kotaknya, yang tidak lain adalah sebuah kotak musik yang berisikan lagu-lagu. Dengan iringan musik itulah, si pengamen perempuan ini mendendangkan beberapa lagu untuk menghibur para penumpang di bis jurusan Malang-Blitar.

Saking asyiknya, aku pun terlena akan pesan-pesan yang masuk tanpa sempat aku balas satu pun. Setelah usai, si pengamen meminta keikhlasan penumpang untuk memberinya uang receh. Baru menyadari bahwa aku harus mengirim pesan kepada seorang kawan yang telah menungguku di pemberhentian di kotanya.

Langit mulai kehilangan cahayanya, meredup dan kelabu. Menyusur jalanan dari balik jendela, pikiran melesat jauh ke masa lalu. Mengingatkan pada perjalanan beberapa waktu silam.

Tak lama kemudian, seorang kawan yang baru saja kenal di dalam bis memberiku kode untuk segera turun. Dia seorang yang baik, aku menitip pesan padanya agar diingatkan jika sudah sampai. Ternyata benar-benar seorang yang amanah. Lagi-lagi aku menyukai kota itu karena keramahan orang-orangnya.

Terlihat dari kejauhan sebuah perempatan, dan bis itu melambat. Terlihat dua orang kawan di atas kendaraan mengamati seiisi bis dengan cermat. Aku pun merasa senang melihatnya dengan senyuman menyambut kedatanganku seolah tersirat perkataan “Selamat datang”.

Desember 2011 – Januari 2012

0 komentar:

Posting Komentar

 

Aku

Diberdayakan oleh Blogger.

Jantan Putra Bangsa adalah seorang Pecinta Kampung, Kretek, Jamu, Rempah, Kopi dan Seluruh Kekayaan Alam Nusantara. Meluapkan kecintaannya itu melalui kata-kata, tulisan, dan kesenian. Bisa dihubungi melalui jejaring social twitter @Jantanpb maupun melalui surat elektronik jantanmail@gmail.com

Copyright © 2015 • Jantan Putra Bangsa