Kota Tua di Ibu Kota

Minggu, 15 Januari 2012

Selama ini, hal yang terpikirkan ketika mendengar nama Ibu Kota, selalu saja adalah Banjir di musim hujan, kemacetan di jalan-jalan, dan segala hal yang hiruk pikuk. Seolah tak ada lagi yang menarik di Ibu Kota, hingga aku menelusur jejak kota Tua bersama dua orang kawan yang kebetulan transit menunggu jadwal kereta untuk pulang ke kota tempat tinggalku. Sehingga tidak banyak yang bisa aku ceritakan, dan tidak banyak pula gambar yang aku ambil di kota Tua. Tapi setidaknya, itu sudah cukup membantu mengungkapkan indahknya kota Tua di balik hiruk pikuknya Ibu Kota.

Begitu memasuki halaman tengah kota Tua, aku merasa berada di Belanda (Eropa)—terbayang sudut-sudut kota dalam film-film yang pernah aku tonton—karena aku melihat bentuk-bentuk bangunan yang tinggi dan besar, jelas bukan merupakan bentuk bangunan yang selama ini aku kenal.

Bangunan tinggi dan besar dengan cat putih berlilit sedikit warna oranye menyita perhatianku. Begitu cermat mengamati dari samping kiri ke kanan, dari bawah hingga atas, akhirnya aku mengerti, bahwa bangunan itu adalah kantor Pos Indonesia. Ada tulisan di puncak bangunan dengan lambang kepala burung serta bendera Sang Saka Merah-Putih berkibar di atasnya, seolah mengayomi segala hal yang ada di sekitarnya.

Di depan kantor Pos Indonesia itulah, ratusan sepeda Onthel dengan segala jenis dan warnanya menghiasi halaman tengah kota Tua. Tidak ketinggalan pula pakaian model Belanda lengkap dengan aksesorinya seolah-olah melambai-lambai ingin dikenakan. Tentu tidak sembarangan, karena harus membayar uang sewa untuk bisa mngendarai serta mengenakan pakaian ala Eropa itu.

Tak puas dengan semua itu, akhirnya aku dan kedua orang kawanku mengitari kota Tua. Melihat dari dekat, serta membayangkan Indonesia di zaman dulu kala. Jelas bangunan-bangunan ini adalah saksi sejarah kolonialisme dan imperialisme atas bangsa Indonesia. Terbayang jelas pelajaran sejarah yang mengingatkanku pada sikap Patriotis pahlawan-pahlawan nasional Indonesia mengusir mereka dari bumi Indonesia.





Sebagai bangsa yang besar (baca: Indonesia), yang memiliki peradaban, tak akan menghancurkan bangunan bersejarah ini. Karena dari sini dapat kita mengenali dan mengingat sejarah perjuangan bangsa Indonesia.

Di tengah asyiknya menyusur ingatan sejarah, tiba-tiba, mataku melesat pada sudut kota Tua, ada sebuah tembok putih dengan tulisan “Kantin Kota Tua” dengan sedikit cap bibir dengan gincu merah. Terlihat aneh, karena tidak ada warung makanan di situ, hanya seperti bangunan tua tak berpenghuni yang hanya ada 1 buah kursi kecil. Barangkali itu adalah warung yang sudah tak terpakai.

Tidak hanya itu saja, ada beberapa kantor—aku tidak tahu persis apakah masih digunakan atau tidak—yang berada dalm bangunan kota Tua. Yang jelas ada orang di dalamnya, tp sepi dengan aktivitas.

Belum puas kami mengamati, tetapi sengatan mentari pun membuat kami mencari tempat berteduh. Memasuki museum kota Tua adalah pilihan yang tepat. Mencoba menelusur sejarah kota Tua melalui museum. Akhirnya kami pun memasukinya. Dengan segala gambar, replika benda-benda bersejarah, lemari, ruang rapat, meja, foto-foto, serta tulisan-tulisan yang menceritakan akan sejarah Indonesia. Sayangnya, aku tidak sempat mengambil beberapa gambar di dalam museum kota Tua.

Yang menarik dari museum itu, dari atas aku dapat melihat sudut-sudut kota Tua dengan jelas, biarpun terlihat kecil. Tapi setidaknya menjadi tempat berteduh dan istirahat dengan nyaman. Karena terlalu lelah, aku menyandarkan badanku dengan duduk di jendela museum, tetapi dengan sigap petugas mengingatkanku dengan bersuara lantang melalui mikrofon yang aku tidak tau persis dari mana datangnya suara itu. dengan jelas masih teringat, kira-kira seperti ini “Mohon bagi pengunjung museum yang duduk di jendela segera untuk turun”. Dengan gesit, aku pun turun dan segera meninggalkan museum.





Begitu sampai di dasar museum dan kembali berada di tengah kota Tua, aku melesatkan pandangku mengitari kota Tua. Tak terasa, langit mulai kehilangan kecerahannya, mengingatkan kami untuk segra menuju stasiun kereta. Karena sudah saatnya pulang ke kota kami. Dengan langkah perlahan, seolah berharap kelak akan mengunjunginya lagi. Menghela nafas panjang, dan melambaikan salam perpisahan sejenak menuju perjalanan pulang.



Kelak, aku akan mengunjungimu lagi

2 komentar:

{ Muhamad Kebo Hidayat } at: 4:35 PM mengatakan...

mantap mas, sy di jakarta malah blm sempat berkunjung. hehe

{ Jantan Putra Bangsa } at: 12:14 AM mengatakan...

hahaha... dulu saya ke sana tp kyknya dirimu belum di Jakarta. Kl dah di Jakarta aku pasti mampir :)

Poskan Komentar

 

Arsip

 

© 2010 Jantan Putra Bangsa