Sepeda Untuk Yogyakarta




Sunday, February 14, 2010


Oleh: Jantan Putra Bangsa

Sewaktu kecil, saya selalu melihat bahwa setiap pagi dan sore di sepanjang jalan Bantul selalu penuh dengan iring-iringan orang naik sepeda. Ketika pagi hari, orang-orang melaju dengan sepeda untuk berangkat bekerja, sedang di sore hari mereka pulang dari kerja. Hal inilah yang menyebabkan pemandangan di jalan sungguh menarik.

Suasanan terasa begitu asri, tanpa banyak polusi, baik polusi udara maupun polusi suara. Di sinilah letak keunikan kota Yogyakarta dengan segala keramah-tamahannya. Namun, saat ini sangat jarang terlihat adanya iring-iringan orang naik sepeda seperti dulu kala. Semua serba kendaraan bermotor yang membuat bising serta polusi udara. Semua demi gengsi dan status sosial. Seakan kendaraan bermotor sudah bukan lagi menjadi barang mewah yang sudah dapat dinikmati semua kalangan.

Dari anak SD hingga orang tua bisa dilihat di jalan-jalan kota Yogyakarta mengendarai sepeda motor yang belum tentu pasti tujuannya. Ada yang hanya sekedar keliling di jalan untuk menikmati suasana Yogyakarta, ada juga yang hanya ingin keliling-keliling bersama teman-temannya. Parahnya, mereka tidak mengindahkan aturan berlalu-lintas di jalan raya; banyak yang tidak mengenakan helm, belum mempunyai SIM. Asal sudah bisa mengendalikan sepeda motornya, mereka langsung saja tancap gas. Sungguh kasihan kota Yogyakarta yang terkenal dengan keramah-tamahannya, kenyamanannya saat ini menjadi seperti kota metropolitan.

Namun, sungguh suatu prestasi ketika saya melihat di beberapa tempat sudah menyediakan jalur alternatif untuk sepeda. Dengan tulisan-tulisan jalur alternatif itu, semoga saja banyak yang akan menggunakan kembali sepeda. Hal ini sebenarnya akan mendorong para pengendara sepeda untuk mulai dapat merasakan kenyaman. Karena tidak terganggu dengan sumpeknya lalu lalang kendaraan serta kenyamanan bersepeda. Sehingga para pengendara sepeda merasa aman ketika melaju di jalan raya. Seharusnya pemerintah mulai memperhatikan dengan lebih baik para pengendara sepeda sehingga kota Yogyakarta dapat kembali seperti dulu. Tanpa kebisingan, tanpa kemacetan.

Banyaknya toko sepeda yang mulai muncul bak jamur di musim hujan sudah merupakan pertanda baik. Baik penjual sepeda bekas maupun penjual sepeda baru. Dengan begitu banyak harapan yang tersimpan untuk kota Yogyakarta dapat kembali seperti dulu. Selain itu saat ini banyak muncul komunitas-komunitas sepeda yang sangat membantu untuk ikut serta mengajak kembali masyarakat menggunakan sepeda. Inilah awal dari kesadaran masyarakat untu kembali menggunakan sepeda.

Sebenarnya ketika naik sepeda dijadikan sebagai kebutuhan akan membantu masyarakat sendiri ketika menghadapi krisis global maupun naiknya harga BBM. Karena sepeda tidak membutuhkan bensin ataupun bahan bakar minyak lainya, yang dibutuhkan untuk menjalankan sepeda hanyalah tenaga kita sendiri. Dengan kekuatan otot kaki, kita dapat melaju di jalan. Selain membuat kita sehat, hal ini juga merupakan suatu alternatif untuk mengatasi padatnya lalu lintas kota Yogyakarta. Semoga di kemudian hari akan bisa kita lihat kembali jalan-jalan kota Yogyakarta dipenuhi dengan iring-iringan orang naik sepeda.

0 comments:

Post a Comment

 

Aku

Powered by Blogger.

Jantan Putra Bangsa adalah seorang Pecinta Kampung, Kretek, Jamu, Rempah, Kopi dan Seluruh Kekayaan Alam Nusantara. Meluapkan kecintaannya itu melalui kata-kata, tulisan, dan kesenian. Bisa dihubungi melalui jejaring social twitter @Jantanpb maupun melalui surat elektronik jantanmail@gmail.com

Copyright © 2015 • Jantan Putra Bangsa